Rapuhnya “Tiga Kaki” Hendrajoni dalam Peta Politik Sumatera Barat
Narasi yang menempatkan Hendrajoni sebagai kandidat paling berpeluang menggantikan Mahyeldi hanya karena modal statistik linear “tiga kaki” merupakan sebuah simplifikasi politik yang mengabaikan dinamisnya psikologi pemilih Sumatera Barat. Mengukur peluang kemenangan hanya dari akumulasi suara istri di pemilu legislatif dan mengasumsikannya bisa dikonversi secara utuh dalam pilgub adalah kekeliruan mendasar. Karakter pemilih pilleg (pemilu legislatif) sangat berbeda dengan pilgub. Kenaikan suara Lisda Hendrajoni pada Pemilu 2024 dipengaruhi oleh kerja elektoral personal dan dinamika kepartaian yang cair, yang tidak serta-merta berbanding lurus dan dapat dipindahkan begitu saja untuk memenangkan figur lain dalam kontestasi eksekutif.
Klaim mengenai “kaki ketiga” berupa soliditas pemilih Pesisir Selatan (Pessel) juga mengandung cacat logika sejarah. Narasi tersebut menyamakan begitu saja modal politik Hendrajoni dengan mendiang Nasrul Abit. Padahal, Nasrul Abit memiliki rekam jejak kepemimpinan dua periode di Pessel tanpa jeda dan kekalahan politik yang mencolok di tingkat lokal sebelum melenggang ke provinsi. Sementara itu, Hendrajoni memiliki beban politik historis berupa kekalahannya di Pilbup Pessel pada tahun 2020 lalu. Ketidakmampuan mempertahankan basis utama di tingkat kabupaten/kota justru menjadi indikator bahwa legitimasi politik lokalnya pernah ditolak oleh rakyatnya sendiri, sehingga mitos “pemilih solid Pessel” untuk Hendrajoni menjadi sangat rapuh.
Lebih jauh lagi, analisis tersebut terlampau meremehkan kekuatan figur-figur lain seperti Fadly Amran atau tokoh-tokoh regional lainnya yang dibatasi oleh narasi “sejarah yang sulit dibuat”. Fadly Amran kini memegang kendali atas Kota Padang, yang secara geopolitik merupakan episentrum utama dan lumbung suara terbesar di Sumatera Barat. Menyamakan daya tawar Wali Kota Padang dengan bupati dari wilayah dengan populasi kecil adalah sebuah anomali taktis. Siapa pun yang berhasil menguasai dan mengakar di Padang serta wilayah sekitarnya memiliki daya dongkrak elektabilitas yang jauh lebih masif ketimbang figur yang hanya mengandalkan sentimen kedaerahan di satu kabupaten pinggiran.
Narasi di atas juga tampak abai dan “mengecilkan” mesin politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang telah teruji memenangkan Pilgub Sumbar empat kali berturut-turut. Mengatakan bahwa tidak ada kader PKS yang menonjol untuk menggantikan Mahyeldi adalah bentuk kebutaan terhadap pola kaderisasi partai tersebut.
PKS tidak pernah bergantung pada satu figur yang “menonjol” sejak awal, melainkan pada loyalitas kader, soliditas struktur, dan mesin partai yang bergerak senyap namun mematikan. PKS terbukti mampu menyulap figur yang awalnya tidak diunggulkan secara personal menjadi pemenang mutlak karena kekuatan ideologi dan kedekatan emosional dengan masyarakat Minangkabau.
Pada akhirnya, politik Sumatera Barat bukanlah hitung-hitungan matematika sederhana di atas kertas mengenai berapa jumlah “kaki” atau modal dinasti yang dimiliki seorang kandidat. Pemilih di Sumbar terkenal rasional, kritis, dan tidak mudah didikte oleh sentimen kekerabatan atau ikatan primordial semata. Menggantungkan harapan pada “kaki takdir” tanpa melihat realita bahwa konstelasi politik terus berubah, mesin partai lawan tetap solid, dan figur-figur baru terus bermunculan dengan kapasitas modern, hanya akan membuat analisis “Tiga Kaki Hendrajoni” ini berakhir sebagai angan-angan politik yang utopis.
-Tan Firdaus-










