PESISIR SELATAN — Sebuah kabut misteri kini tengah menyelimuti ranah Pesisir Selatan. Seorang guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) berinisial IPP (32), ditemukan terbujur kaku tak bernyawa. Ironisnya, jasad pria ini ditemukan di dalam kamar mes personel Polres Pesisir Selatan, Nagari Salido, Kecamatan IV Jurai, Sumatera Barat.
Kepergian sang guru sekolah dasar yang mendadak pada Sabtu (27/6/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB itu, menyisakan luka mendalam sekaligus tanda tanya besar bagi keluarga. Mereka mencium adanya kejanggalan yang tak wajar dan bersumpah akan mengawal kasus ini hingga tabir kebenaran terungkap gamblang.
Detik-Detik Penemuan Jasad di Kamar Singgah
Pihak kepolisian membenarkan adanya peristiwa tragis tersebut. Kapolres Pesisir Selatan, AKBP Derry Indra, melalui Kasat Reskrim IPTU Ai Am’ar Faradhyba, mengungkapkan bahwa korban sebenarnya memiliki hubungan pertemanan yang dekat dengan sang pemilik mes.
Malam itu menjadi malam terakhir bagi IPP. Sebelum embusan napas terakhirnya, ia berniat hanya menumpang istirahat di kamar sahabatnya tersebut.
“Sebelum kejadian, korban menumpang beristirahat di kamar tersebut saat pemilik kamar sedang menjalankan tugas piket di Polres Pesisir Selatan,” ujar Am’ar membuka kronologi.
Namun, kepulangan sang polisi usai menunaikan tugas piket justru disambut pemandangan memilukan. Di atas kasur, ia mendapati tubuh IPP sudah membeku dan tak lagi bergerak.
“Saksi kemudian meminta bantuan personel lain untuk membawa korban ke rumah sakit. Namun, takdir berkata lain, setelah diperiksa, korban dinyatakan telah meninggal dunia,” lanjutnya dengan nada berat.
Teka-Teki Penyebab Kematian: Polisi Tunggu Hasil Otopsi
Hingga detik ini, misteri apa yang merenggut nyawa guru muda tersebut masih gelap gulita. Polisi masih terus meraba dalam penyelidikan mendalam sembari menggantungkan kepastian pada hasil otopsi tim medis.
“Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dan menunggu hasil otopsi. Apabila ada riwayat penyakit atau hal lainnya, nanti akan dijelaskan secara ilmiah melalui hasil medis,” terang Am’ar.
Meski dari pemeriksaan fisik awal luar tubuh korban belum ditemukan tanda-tanda kekerasan, polisi berjanji tidak akan menutup mata jika ditemukan adanya indikasi tindak pidana.
“Dari pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan yang dicurigai menjadi penyebab kematian. Namun, apabila nantinya ditemukan unsur kesengajaan atau tindak pidana, tentu akan kami tindaklanjuti sesuai fakta yang ada,” tegas Kasat Reskrim.
“Semuanya Seperti Dipersiapkan” — Isak Tangis dan Kecurigaan Keluarga
Di sudut lain, air mata Asna (56) tak terbendung. Ibu kandung korban merasa ada skenario yang janggal di balik kematian putra tercintanya, yang akrab disapa Ingga Pratama Putra tersebut.
Kecurigaan keluarga bermula dari komunikasi yang dinilai lambat dan membingungkan. Peristiwa terjadi Sabtu dini hari, namun keluarga baru dikabari pada Minggu (28/6/2026) subuh sekitar pukul 04.00 WIB. Itu pun dengan informasi yang dinilai sengaja ditutupi.
“Kami diberitahu oleh aparat kepolisian bahwa Ingga hanya pingsan. Namun, bak disambar petir, setelah sampai di lokasi, ternyata anak kami sudah meninggal dunia,” ungkap Asna dengan suara bergetar, Senin.
Tak hanya itu, batin Asna kian bergejolak saat melihat kondisi Tempat Kejadian Perkara (TKP). Sebelum keluarga menginjakkan kaki di sana, lokasi sudah disterilkan secara sepihak dan dipenuhi kendaraan operasional, namun tanpa ada garis polisi (police line).
“Saat kami datang ke lokasi, kami melihat sudah ada mobil Inafis Polri, ambulans, dan kendaraan kepolisian yang siaga. Menurut kami ini sangat janggal. Semuanya sudah tampak steril, seperti sudah dipersiapkan,” tutur Asna lirih namun penuh penekanan.
Kini, sang ibu bersama keluarga besar hanya bisa meratapi kepergian Ingga, sembari membulatkan tekad: mereka tidak akan mundur satu langkah pun untuk mencari keadilan atas kematian misterius sang guru di balik dinding mes korps penegak hukum tersebut.








