Pemilih HJ di pilkada tahun lalu sebagian besar adalah mantan pemilih RA di pilkada sebelummnya,,
Mereka memutuskan memilih HJ bukan semata-mata karena menganggap HJ cinta sejatinya, atau karena RA bukanlah laki-laki pilihan yang tepat?
Ini sama halnya dengan Anak muda pacaran, mereka yang putus itu bukan berarti peluang untuk CLBK sudah tertutup rapat, Karena banyak Fakta yang membuktikan, Bahwa CLBK dalam politik itu benar adanya, dan itu sering terjadi…
Lantas,, Bagaimana Jika sebagian besar Cinta sejati pemilih di pessel yang kemaren memilih untuk putus dengan RA lantaran tergoda oleh politik HJ kini kembali mengingat mantannya RA.?
Mereka tersadar, bahwa RA adalah laki-laki yang lebih tepat untuk meneruskan kembali Perahu Pembangunan Pesisir Selatan untuk periode selanjutnya, setelah HJ tak lagi bersama mereka, setelah HJ memutuskan berlayar jauh ke Pilgub….
————
Okey,,
Kita lanjutkan pelan-pelan…
Ente boleh percaya boleh tidak, bahwa ​Rivalitas politik antara Hendrajoni (HJ) dan Rusmayul Anwar (RA) telah lama menjadi episentrum dinamika kekuasaan di negeri ini,
Paja ko urang HJ mahh,,
Paja ko urang RA mah,,
Paja ko urang-urangan sawah mahhh..

Selama bertahun-tahun, persaingan sengit kedua tokoh ini tidak hanya membentuk peta koalisi, tetapi juga menciptakan garis polarisasi yang tajam hingga ke akar rumput. Masyarakat terbelah dalam dikotomi pendukung yang melelahkan, di mana energi daerah sering kali habis untuk perdebatan politis ketimbang akselerasi pembangunan.

Namun, menjelang momentum politik baru, sebuah kesadaran kolektif harusnya sudah mulai muncul bahwa mempertahankan sentimen masa lalu hanya akan membuat Pesisir Selatan berjalan di tempat.

​Dalam lanskap politik yang dinamis, skenario di mana Hendrajoni dan Rusmayul Anwar saling mendukung bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan sebuah kemungkinan yang paling rasional yang sangat terbuka. Skenario ini menawarkan formula simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Dengan basis massa militan yang dimiliki HJ, dukungan dari gerbong RA akan menjadi modal politik yang luar biasa solid bagi HJ untuk melenggang percaya diri menuju Pilgub Sumatra Barat. Sebaliknya, restu dan dukungan balik dari HJ akan melapangkan jalan bagi RA untuk kembali naik tahta memimpin Pesisir Selatan di periode kedua tanpa hambatan berarti.

​Lebih dari sekadar kalkulasi kemenangan, bersatunya dua mentor politik ini akan menjadi momentum magis untuk memutus mata rantai polarisasi di Negeri Sejuta Pesona. Ketika dua figur utama yang selama ini menjadi simbol pembelahan bersedia menurunkan ego dan berjabat tangan, sekat-sekat konflik di tengah masyarakat secara otomatis akan mencair. Rekonsiliasi di tingkat atas ini akan mengirimkan pesan kuat ke akar rumput bahwa kompetisi telah usai dan saatnya merajut kembali persaudaraan yang sempat renggang akibat badai politik masa lalu.

​Pada akhirnya, jika kesepakatan historis ini benar-benar terwujud, pemenang sejati dari konvergensi politik ini bukanlah HJ maupun RA, melainkan seluruh masyarakat Pesisir Selatan. Pessel ane pastikan akan memasuki babak baru yang lebih stabil, di mana pembangunan di tingkat kabupaten dapat berjalan berkesinambungan di bawah RA,

sementara kepentingan daerah di tingkat provinsi dikawal langsung oleh HJ.
Terakhir, saya ingin mengatakan, bahwa Ini adalah pembuktian tertinggi dari kedewasaan berpolitik, bahwa kekuasaan tidak selalu tentang saling menumbangkan, melainkan tentang bagaimana saling menopang demi sesuatu yang lebih besar…

Penulis: TFEditor: Ferry Taliwang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *